Senin, 12 Desember 2011

Sondang Seorang Pahlawan atau Pemuda Bodoh

"Seorang Wanita setengah baya membakar diri didepan istana"

Headline salah satu media internet tersebut membuat saya terperangah, wanita mana yang segitu benci akan hidupnya sehingga harus membakar diri pikirku. dan mengapa istana negara? tempat itu merupakan simbol keagungan Sang Raja yang memimpin monarkhi ini..

Banyak sekali pertanyaan dibenakku pada saat itu, satu hal yg pasti.. ada pesan yg tersirat dari aksi tersebut.. Pesan untuk Sang Raja negeri ini.. apa isi pesan itu, aku tak tahu pada saat itu, namun pasti menyerukan ketidak puasan atas perintah sang Raja.

Tidak mungkin ada seorang pun yg rela untuk membakar diri didepan istana jika sang pemimpin bertindak adil..

Akhirnya siapa orang yg membakar diri terungkap, bukan seorang wanita paruh baya, namun seorang mahasiswa yg berusia 22 tahun. Sondang Hutagalung namanya.

Nama tersebut sangat tidak asing bagiku, sama persis dengan nama seorang kawan baik yang pernah berjuang bersama waktu aku masih seorang aktivis.. nama seorang ketua organisasi kemahasiswaan garis keras.. nama seseorang yang aku tak menyangsikan bahwa hal2 ekstrim seperti ini akan dia lakukan.. namun umur kawan seperjuangan dulu itu pasti bukan 22 tahun, mungkin 30an akhir umurnya.

akhirnya dapat kabar bahwa Sondang Hutagalung yang saya kenal bukanlah Sondang yang membakar dirinya.. Alhamdulillah, Allahuakbar.. itu yg saya serukan pada saat itu.. bersyukur bukan kawan saya yang melakukan hal ekstrim seperti itu..

Akhirnya saya berniat ingin mengenal siapa Marhaenis Muda yang rela mati muda dengan cara yang sangat gila. Cara ekstrim yang sangat tidak mungkin dilakukan oleh seorang yang tidak putus asa dengan apa yang dia perjuangkan, dan juga sebuah cara ekstrim untuk sengaja mengakhiri hidup.

Setelah lama mencari akhirnya saya sedikit banyak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kawan ini.. sudah 222 kali hari kamis dia dan kawan2 seperjuangannya lewatkan didepan istana negara untuk menuntut keadilan atas kematian Munir, sudah 222kali hari kamis dia dan kawan2 seperjuangannya menuntut perbaikan sistem keadilan di kerajaan ini.. DAN 222 KALI JUGA MEREKA TIDAK DIGUBRIS OLEH SANG RAJA...!!! (lihat ini)

Saya rasa itulah yang membuat seorang Sondang nekat membakar dirinya, hanya untuk 1 hal.. TUNTUTAN  DIDENGAR OLEH SANG RAJA..!!!

Bodohkah tindakannya?
Apakah setelah itu tuntutan dia dan teman2 seperjuangannya didengar?

entah bagaimana caranya, namun media massa seperti menyembunyikan latar belakang dia melakukan hal ini.

Ada 1 hal yang saya ingat, Sutan Bhatoegana seorang politisi partai yang dibuat dan dilindungi oleh sang Raja  berkata bahwa tindakan bakar diri itu tidak jelas alasannya.. omongan ini terkesan menyembunyikan sebuah fakta, dan melindungi sang Raja.

Sebuah pengorbanan untuk negara yang lebih baik, sebuah pengorbanan untuk keadilan di Negara Monarkhi Absolut ini, sebuah tindakan yang terkesan bodoh namun sarat makna.. NKRI harga mati, NKRI negara berdemokrasi, bukan sebuah Monarkhi yang mengenal adanya kekebalan hukum untuk kerabat sang Raja.

Tindakan dia sungguh sangat disesalkan, seorang generasi muda yang nantinya akan membangun bangsa harus mati sia2 tanpa sebuah kejelasan kapan tuntutannya akan didengar, harus mati sia2 karena kehebatan sang Raja dalam membuat masyarakatnya antipati dengan apa yang dia lakukan.

Seharusnya dia melakukan riset terlebih dahulu apakah pengorbanannya akan sia2 atau tidak. Seharusnya dia mencari cara yang lebih baik dibandingkan mengakhiri hidupnya dengan tragis, itu yang terlintas dipikiran saya saat ini.

Indonesia bukan Mesir yg terjadi revolusi setelah seorang pedangannya melakukan aksi bakar diri. Indonesia lebih kompleks, karena sudah 7 tahun ini secara tidak sadar rakyatnya sudah terkekang oleh kecerdasan sang Raja. Mayoritas media massa merupakan alat politik sang penguasa. Ketampanan dan tutur kata yang sangat diatur benar2 menghipnotis mayoritas masyarakat. Pelanggaran HAM terjadi dipedalaman-pedalaman namun tak tercium oleh masyarakat kebanyakan, sistem pemerintahan dan keadilan yang dibuat untuk mengamankan penguasa2 kecil hingga besar yang tentu saja membuat banyak cara2 perlawanan tertutup dengan sendirinya.

Mungkin seorang Sondang tidak melihat itu semua, mungkin seorang Sondang merasa putus asa dengan perjuangan2nya, mungkin seorang Sondang akhirnya merasa lelah setelah 222 hari Kamis dia lalui tanpa ada tanggapan dari Sang Raja.

mungkin..mungkin..mungkin.. semua ini hanya mungkin.. semua tulisan ini hanya apa yg saya pikirkan mengenai aksi seorang Sondang Hutagalung.

Pahlawan atau Pemuda Bodoh, itu terserah penilaian kalian semua.

Untuk saya, Sondang Hutagalung adalah RAPOR MERAH sang Raja.
itu saja.

--sekian--

#saya bukan seorang penulis, hanya orang biasa yang marah dan ingin berteriak atas kejadian ini

Rabu, 12 Oktober 2011

Pengakuan Dosa

Banyak blog yg berkualitas, tapi tidak mementingkan kuantitas.. banyak jg blog yang kurang berkualitas, tapi jumlah postingannya luar biasa banyaknya..



... dan blog gw ini...


UDAH GA BERKUALITAS, MALES POSTING PULAK...!!
#sayabukanblogersejati


mohon dimaafkan atas kelalaian saya ini..
wassalam...